Jangan Jadikan Aku Venus [REPOST]

2009 July 28

Malaikat berkejaran membawa butiran-butiran air menuju bumi, keras menghempas wajahku menatap langit. Membasahi serat benang berajut halus, bersambung satu dengan yang lain dalam pola sederhana melindungi kulit telanjangku.

“Hei! Berteduh Mir!” Teriak tercintaku dari bawah jembatan layang melintas tak jauh dari Pamuk Bank.

“Biar! Sudah dua tahun tak kujumpa kesegaran seperti ini Jeanne!”

“Nanti kau sakit.” Jeritnya lagi.

“Usah kau pengaruhi tubuhku dengan sugestimu!”

“Kau tak sekuat itu Mir!”

“Itu yang kau kira! Elemenku sudah pernah menerawang arsy, meresapi secebis kepantasannya, immune terhadap fisika!”

Suaraku membaur dengan sentuhan sayap disetiap tetes murni yang berebutan menelusuri lidah, mengalir kedalam relung di tubuhku.

“Darahmu akan menyerap setiap partikel radio aktif dari tetes yang kau bilang bening itu cin.” Serunya sambil mengulurkan tangan, berharap aku ikut berteduh.

“Itu bila kau percaya kondensasi!” Balasku, juga mengulurkan tangan, menjemputnya larut dalam terpaan kasih menyerta hujan.

***

“Ini dua juta lira pa, tak usah dikembalikan, biar buat biaya mengeringkan jok dan karpet.” Kata Jeanne riang, tersenyum, lalu melambai tangan pada supir taksi baik hati yang barusan mengantar kami.

Tangannya melingkar dipinggangku, pipinya tak lepas dari dadaku, meninggalkan jejak atom hidrogen yang enggan melepas rengkuhan dua atom oksigen, lembut mencumbu bebatuan bumi dalam susunan kokoh, menjadi titian yang mengantar kami pada atmosphere venus.

“Basah semua cin.” Ujarnya bergetar menahan dingin.

“Tak sampai mencairkan oksigen seperti malam merkurius bukan?” Jawabku tersenyum mengakrabi keindahannya.

“Sungguh kau akan terus menyibak awan yang selubungi aku? Demi mendapatkan kehangatan malam venus?”

“Aku ingin menjadikanmu bumi, tebarkan benih cinta di ladangmu.” Jawabku, dalam nafas kian memburu.

“Bumi dan planet lain mengorbit searah putaran Thawaf cin, venus tidak, kau bisa dapatkan malamku, pada siangku kau terbakar.” Kata-katanya bergetar, berusaha ciptakan medan energi untuk menghalau tubuhku, namun terperangkap dalam gravitasinya sendiri.

“Biar kuambil kesempatan, meng-ekplorasi air di permukaanmu.”

“Evolusi biologi mustahil terjadi padaku cin, ketaksabaranmu menguapkan airku.” Kesenduan Jeanne semakin menuntunku.

“Biar terpanggang aku demi cintamu.”

“Tidak cin! Tidak! Aku sungguh ingin menjadi bumi, biar kusimpan Karbon dioksid yang membakarmu, dalam lautku, dalam hijau daunku, dalam tanahku, mungkin kita harus menunggu, hanya dengan begitu aku bisa menjadi bumi, dimana kau bisa tebarkan benihmu, jangan jadi prominen mentari cin, mencoba terus berlari, namun kembali terhempas dalam api, please cin…”

Tangisan itu membangunkan aku, melemparkan aku jauh dari atmosphere venus, terlontar dari selubung awannya, menatapnya yang tak nampak, terlindung cahaya mentari, saat dia begitu dekat, kembali mengorbit pada bumi.

“Maafkan aku cin.” Kuselimuti dia dalam kelembutan kapas, menggantikan tubuhku dalam peluknya.

Aku terbang menuju tiberia, menghirup debu terpanggang mentari, mencari Harut dan Marut, dua malaikat yang memilih siksa dunia, terbakar diantara tanduk Hattin, demi cumbui keindahan kekasih, bidadari bersinar seperti bintang, di timur saat terbit mentari, di barat saat senja datang. Tapi ia bukan bintang, bidadari itu terkutuk menjadi venus, indah namun sunyi, mengorbit mentari dengan arah menyalahi bumi, menjadi saksi atas kesalahan meragukan Dia, saat memilih manusia, menjadi penghuni dunia.

***

Jacko, inget ngga?

2009 July 14

Sang Paraoh tersenyum menatap Nefertiti yang tampak jemu. “give him to the lion,” katanya dingin. Eddy murphy yang entah kapan diangkat menjadi Fir’aun hanya tersenyum saja melihat kelakuan Iman, model kulit hitam yang berperan sebagai Nefertiti. Tak ketinggalan Magic Johnson, yang gak ada tampang jadi algojo.

Do you remember the time? Perjuangan Jacko menuntut persamaan ras is beyond semboyan revolusi perancis. Hal ini lah yang akan membuat dia terus dikenang. Demi perjuangan itu juga Jacko merubah warna kulitnya, secara jelas dia ingin menyatakan, so what dengan warna kulit? Look at me! ini tidak tentang gen, bukan tentang suatu ras yang satu lebih tinggi dari ras yang lain.

Klip Do you remember the time juga merupakan sebuah pernyataan, bahwa bangsa berkulit hitam pernah lebih dahulu menguasai dunia, bahkan kekuasaan itu tak akan runtuh jika tanpa campur tangan Allah.

Bila kita kembali membaca sejarah, alasan kolonialisme juga tak lepas dari warna kulit, dimana para penjajah eropa dulu, menaklukkan bangsa demi bangsa menggunakan alasan ini, half human, setengah manusia, selain eropa hanya monyet. Pramoedya secara implisit menyatakan ini dengan memberi nama Minke aka. Monkey, untuk tokoh Raden mas Adi suryo yang diceritakannya.

Jacko memang sudah tak ada lagi, tapi perjuangan bersama Nelson Mandella, Diana Ross dan sekian juta manusia lain yang tak terkenal telah berhasil membuat isu ras menjadi basi. Again Jacko, farewell bro!

Tulisan ini di Ilhami oleh Guskar yang secara tidak langsung menularkan kemampuan supra naturalnya pada saya, kemampuan menangkap wangsit dan berbicara dengan alam gaib. Thank’s Gus.

Dan bagi yang punya waktu panjang, masih ditawarkan untuk membaca postinga lawas berikut;

Chapter one. Lunar orbit dan Chapter two. The Titan

Mabuk Posting !

2009 July 14
by eoin

Batang demi batang telah habis terbakar. Peluh bercucuran, dada bergemuruh kencang. Mungkin akibat makan durian montong tadi. Kepala terasa berat. Angin malam tak bisa mendinginkan tubuhku. Mau posting apa?

Jadi teringat kategori tak laku, postingan pertama saat launching blog dulu [ emang pesawat? ], persis tiga bulan yang lalu. Mau di repost, rasanya kok kepanjangan.  So, kufikir lebih baik bikin tulisan ini. sebagai tawaran dan disclaimer untuk tulisan panjang, yang tak perlu kau kunjungi bila tak ada waktu. Kalo mau baca makasih, kalo gak mau juga makasih.

Chapter One. Lunar orbit. Tentang mereka disekitarku 97-2005.

Chapter two. The Titan. Tentang dia yang mendampingi hidupku.

Ai, ngantuk nian.. yang agak sibuk dan ga sempet baca postingan diatas, komen disini aja yah.. hehehe, salam kenal :)

Makasih buat pakacil buat upgrade ke 2.8.1 dan makasih buat yang bikin themes baru saya yang bagus,  tapi  memang agak susah dibaca :P mmmm, gak jadi ngantuk. sewaktu postingan ini dibuat, Counter pengunjung warna merah itu menunjukkan angka 777 keren ih. katanya tujuh angka kaya. dari angka 9 yang dibuang 2-nya untuk dibagi-bagi dan tidak dinikmati sendiri. aminn..

Bu..jangan.. oh.. bu.. jangan…

2009 July 12
by eoin

Kata bahasa arab untuk bujangan adalah a’adzab. Lho apa bedanya dengan kata ‘adzab? a’adzab adalah bentuk supelative dari adzab. Bener ya? Superlative kan istilahnya untuk good-better-best. Ini artinya bahwa bahasa arab untuk bujangan adalah se-azab-azabnya azab. Nah kok makin rancu? susah memang kalo nulis gak ada script arabnya. padahal sudah plugged sih, tapi aku sendiri gak lancar ngetik Arab.

Apabila azdab dibahasa indonesiakan sebagai siksa, maka bujangan berarti sesadis-sadisnya siksa, wuih, betapa kejamnya. lalu mengapa bujangan tidak merasa tersiksa? Siapa bilang? aku yakin pasti tersiksa, bila tidak, tentu para badui zaman dahulu tidak memanggil bujangan dengan sebutan itu.

Aku sudah hendak menikah sejak lulus Aliyah dulu, namun dihadapkan pada dua pilihan oleh orang tuaku, menikah? atau kuliah? Yah, karena waktu itu aku mengira masa depan akan lebih baik andai aku kuliah, maka aku memilih kuliah daripada nikah. Bodohnya, mengapa aku tidak memilih dua-duanya saja. berguling-guling dilantai sampai keinginanku untuk kuliah dalam status married terlaksana. [ Mustahil! mamaku sangatlah kejam ]

Guruku melempar pertanyaan pada murid-muridnya, “mengapa kalian harus menikah?” pertanyaan itu beliau jawab sendiri, “karena pernikahan akan menyelamatkan kalian dari neraka-Nya”

read more…