Malaikat berkejaran membawa butiran-butiran air menuju bumi, keras menghempas wajahku menatap langit. Membasahi serat benang berajut halus, bersambung satu dengan yang lain dalam pola sederhana melindungi kulit telanjangku.
“Hei! Berteduh Mir!” Teriak tercintaku dari bawah jembatan layang melintas tak jauh dari Pamuk Bank.
“Biar! Sudah dua tahun tak kujumpa kesegaran seperti ini Jeanne!”
“Nanti kau sakit.” Jeritnya lagi.
“Usah kau pengaruhi tubuhku dengan sugestimu!”
“Kau tak sekuat itu Mir!”
“Itu yang kau kira! Elemenku sudah pernah menerawang arsy, meresapi secebis kepantasannya, immune terhadap fisika!”
Suaraku membaur dengan sentuhan sayap disetiap tetes murni yang berebutan menelusuri lidah, mengalir kedalam relung di tubuhku.
“Darahmu akan menyerap setiap partikel radio aktif dari tetes yang kau bilang bening itu cin.” Serunya sambil mengulurkan tangan, berharap aku ikut berteduh.
“Itu bila kau percaya kondensasi!” Balasku, juga mengulurkan tangan, menjemputnya larut dalam terpaan kasih menyerta hujan.
***
“Ini dua juta lira pa, tak usah dikembalikan, biar buat biaya mengeringkan jok dan karpet.” Kata Jeanne riang, tersenyum, lalu melambai tangan pada supir taksi baik hati yang barusan mengantar kami.
Tangannya melingkar dipinggangku, pipinya tak lepas dari dadaku, meninggalkan jejak atom hidrogen yang enggan melepas rengkuhan dua atom oksigen, lembut mencumbu bebatuan bumi dalam susunan kokoh, menjadi titian yang mengantar kami pada atmosphere venus.
“Basah semua cin.” Ujarnya bergetar menahan dingin.
“Tak sampai mencairkan oksigen seperti malam merkurius bukan?” Jawabku tersenyum mengakrabi keindahannya.
“Sungguh kau akan terus menyibak awan yang selubungi aku? Demi mendapatkan kehangatan malam venus?”
“Aku ingin menjadikanmu bumi, tebarkan benih cinta di ladangmu.” Jawabku, dalam nafas kian memburu.
“Bumi dan planet lain mengorbit searah putaran Thawaf cin, venus tidak, kau bisa dapatkan malamku, pada siangku kau terbakar.” Kata-katanya bergetar, berusaha ciptakan medan energi untuk menghalau tubuhku, namun terperangkap dalam gravitasinya sendiri.
“Biar kuambil kesempatan, meng-ekplorasi air di permukaanmu.”
“Evolusi biologi mustahil terjadi padaku cin, ketaksabaranmu menguapkan airku.” Kesenduan Jeanne semakin menuntunku.
“Biar terpanggang aku demi cintamu.”
“Tidak cin! Tidak! Aku sungguh ingin menjadi bumi, biar kusimpan Karbon dioksid yang membakarmu, dalam lautku, dalam hijau daunku, dalam tanahku, mungkin kita harus menunggu, hanya dengan begitu aku bisa menjadi bumi, dimana kau bisa tebarkan benihmu, jangan jadi prominen mentari cin, mencoba terus berlari, namun kembali terhempas dalam api, please cin…”
Tangisan itu membangunkan aku, melemparkan aku jauh dari atmosphere venus, terlontar dari selubung awannya, menatapnya yang tak nampak, terlindung cahaya mentari, saat dia begitu dekat, kembali mengorbit pada bumi.
“Maafkan aku cin.” Kuselimuti dia dalam kelembutan kapas, menggantikan tubuhku dalam peluknya.
Aku terbang menuju tiberia, menghirup debu terpanggang mentari, mencari Harut dan Marut, dua malaikat yang memilih siksa dunia, terbakar diantara tanduk Hattin, demi cumbui keindahan kekasih, bidadari bersinar seperti bintang, di timur saat terbit mentari, di barat saat senja datang. Tapi ia bukan bintang, bidadari itu terkutuk menjadi venus, indah namun sunyi, mengorbit mentari dengan arah menyalahi bumi, menjadi saksi atas kesalahan meragukan Dia, saat memilih manusia, menjadi penghuni dunia.
***


