chapter 01. Lunar orbit

2009 April 14

Beyda memandangi dua bintang berpendar hijau pada langit-langit kamar. Udara lembab equator terasa hingga jantung Istambul. Jemarinya mempermainkan punggung tanganku.

“posphornya hampir habis.” Aku berbisik.

Dia mengalihkan pandangannya pada lapangan bola klub galatasaray.

“kau lihat hamparan hijau itu? itu adalah kehidupan.” mataku berputar menuju lapangan hijau berumput tertata rapi, “dan pagar yang mengelilingi lapangan rumput itu adalah batasan. Penonton sorak sorai itu adalah penjaga neraka, siap mencabik siapa saja yang melewati pembatas itu.” beyda meneruskan.

“kuliahmu belum selesai, kuliahku apalagi.” Sahutku.

“kita sudah dekat sekali dengan pagar pembatas itu, sorak itu seperti mengelukan, sebenarnya mereka sedang memancing kita menjadi mangsa.” Dia meneruskan. Suaranya pelan hampir tak terdengar, dalam, seperti bergumam. Dia menggeser tubuhnya, berbaring miring, menatapku. Jemarinya memetik dawai harpa yang terbentang melintasiku, denting mengayun dalam tempo lambat membentuk untaian irama sangat indah, membuat bintang hijau pada langit-langit kamar mulai menari.

“jadi aku harus tidur diluar? seperti biasa.”

“sebaiknya begitu, karena aku sedang menggiringmu melintasi pagar pembatas.”

“bagaimana bila tak usah menunggu kuliah kita selesai?”

“keluargaku akan membunuhku.” Beyda menjawab, lebay. Keningnya menyentuh bahuku, suatu kehangatan menyerang, seperti berada disekitar api unggun, panas, meski tak tersentuh api.

“sebaiknya aku segera keluar.”

“iya, selagi sempat.”

Aku berjalan menuju pintu, membukanya, berdiri disana. tanganku memainkan saklar lampu, duapuluh kali terang, duapuluh kali padam. “selamat ulang tahun cin.” kututup pintu kamar itu.

“lima bulan lagi ingatkan aku memainkan lampu itu dua puluh dua kali ya! Aku pelupa!” suaranya terdengar nyaring memembus pintu.

***

Kulintasi sebuah jembatan berwarna putih, tak begitu putih, temaram lampu jalanan dalam kaca bening berbingkai kuningan berukir indah, telah membiaskan warna jingga pada putihnya. Mataku memang menangkap ketidak putihan itu, tapi hatiku tak memperdulikan jingga yang ada. Bagiku tetaplah ia jembatan putih.

“kita dimana sayang?”

Suara itu terasa seperti biskuit renyah yang dicelupkan dalam air sebentar, lalu diangkat sebelum ia larut. Baru kita merasainya. Sebutlah sebuah kerenyahan yang hampir larut. Kelembutan rapuh. Bukan kelembutan marsmellow yang kenyal. Hampir seperti gulali kapas tapi lebih keras sedikit. Lagipula gulali kapas meninggalkan kesan serat yang tajam saat bersentuhan dengan lidah.

Begitulah kira- kira rasanya bahasa arab dalam aksen Jordania. Dulu bersama- sama Suriah dan Libanon negeri itu bernama Syams. Salah satu subjek imperium romawi. Untaian kata itu bernilai lebih, bila tercintaku yang mengucapkannya. Seperti menikmati biskuit hampir larut sepanjang malam, dibawah cahaya rembulan penuh, di pinggir jalan kecil, di suatu sudut kota alexandria.

Pertanyaan itu tak jadi kujawab. Ghada menenggelamkan tubuhnya dalam pelukku. Kuinderai gumpalan awan diatas keningnya. Gurun dibawah mataku mencumbui kehangatan wajah yang bersemu merah terkena angin malam. Kulit halus danau beku siberia itu memang rentan terhadap dingin. Usaha tubuh untuk tetap menjaganya dalam kehangatan memberikan efek semu merah. Senyum tipisnya kuintip dari sudut mataku. Matanya menatap kedepan, menerawangi sorotan lampu yang bergerak memutar. Memberi tanda kepada kapal yang merapatinya dari kejauhan, meski lighthouse of alexandria sudah tak ada lagi disana.

Gadis itu memalingkan wajah. Bibirnya menjadi terlalu dekat. Kurasakan kehangatan langit diwaktu senja. Berpasangan dengan laut bias jingga. Hanya terpisah segaris horizon. Langit senja dan laut bias jingga itu mencumbui langitku, mencandainya, lalu surut pada laut bias jinggaku, menari disana, enggan mencumbu keduanya tidak juga segaris horizon diantaranya. Kurengkuh dia lebih dekat. Biar kuresapi langitnya, lautnya dan horizon diantaranya.

Ditolaknya tubuhku, dihiburnya dengan sebuah senyum dan tatapan mata yang berkata, “jangan! Bukan maumu, tapi bagaimana inginku. Biarkan jadi terserah aku.”

Gadis itu berbalik, berjalan menuju pinggiran jembatan putih yang sebenarnya semburat jingga. Dalam sepuluh langkah kususul dia. Keinginanku untuk kembali memeluknya tertahan genggaman tangan di jemariku. Dituntunnya aku menuju pintu huncback biru yang tak tertutup dari tadi. Dia hempaskan tubuhnya pada jok hitam berbahan kulit. Dipaksanya aku untuk tenggelam dalam cinta malam itu.

serangkaian nada memecah desahan angin.

“sayang, telepon. Istrimu.”

Nafas yang sejenak terhenti kembali menghembuskan hawa panas diwajahku.

“Biarlah, tak usah kau angkat.”

“kapan pernikahan kita akan kau kabarkan padanya?” ghada menghela nafas.

****

Aku berhasil lolos melalui gerbang kampus tercintaku, melintasi gerbang sekunder berukuran satu setengah meter. Aku berjalan menelusuri pagar besi berwarna coklat universitas bunga- bunga. Bunga yang sedang mengisi seluruh relung jiwa.

Udara panas, debu dan asap hitam tiada terasa, demi melihat bulan setengah, pada ombak tenang laut merah yang terpantul pada rambut pendek Camila Bosanska. Rambut pendek bertingkat- tingkat seperti potongan gunung muqattam di kota mesir lama.

“sudah lama?”

Dia jawab pertanyaanku dengan gerakan sigap melompat berdesakan kedalam bis yang tidak berhenti saat melewati halte diseberang mesjid hussein. Wajahnya lebih cerah dari purnama saat memantulkan sinar matahari. Tangannya menggapai aku yang sedang terengah berlari menyongsongnya.

“kita makan dimana?”

suara itu bercampur dengan kebisingan disekitar kami. Kesejukan malam laut merah melandaku, dalam himpitan manusia yang menjelma menjadi ikan-ikan berwarna-warni berkejaran disela terumbu karang.

Pertanyaan itu tak langsung kujawab. seperti biasa, butuh paling sedikit 10 menit bagiku untuk meresapi kecantikan Camila. Dalam bahasa arab huruf c yang mengawali nama gadis itu, bila di baca sebagai huruf K dalam bahasa inggris maka artinya adalah wanita sempurna. Bila dibaca sebagai huruf J dalam lidah turki, artinya berubah menjadi wanita cantik. Maka satu kata itu mengandung dua makna sekaligus yang begitu menggambarkan dirinya. Wanita cantik nan sempurna. Kesempurnaan yang sedang dibakar matahari afrika utara.

“Hei! Bangun! Makan dimana?” tangannya melambai-lambai dekat wajahku.

“terserah!” jawabku setengah teriak.

Terserah adalah jawaban paling tak berguna. Kata yang tidak menyumbang sedikitpun pada sebuah ketidakmenentuan. Terserah bisa juga berarti ketidak berdayaan untuk memproduksi sebuah pemikiran saat otak anda berhenti bekerja. Mungkin disebabkan terlalu banyaknya data yang harus di proses dalam satu waktu, sementara kemampuan prosesing rendah serta tak mendapat dukungan chace memori cukup besar untuk menerima informasi lalu lalang dalam memori dinamik yang bisa di akses secara acak, sebagai jembatan antara prosesor dan bank data yang terbatas. Lag yang menyebabkan buffering terlalu lama hingga sistem tak lagi memberi respon.

Bisa juga disebabkan faktor eksternal yang tak bisa diduga kedatangannya. Faktor tersebut tiba- tiba membanjiri resource komputasi dengan paket data tak terbendung. Dalam hal ini faktor tersebut disebut sebagai cinta.

Begitulah, cinta mempunyai potensi sangat besar untuk menghentikan segala kemampuan untuk berfikir dan menimbang segala sesuatu.

“mata kuliah apa yang kau lewatkan hari ini?”

“mmm… Sejarah perundang- undangan perancis.” Jawabku singkat.

“eh. Mau minum manisan?”

“dimana?”

Gadis itu menunjuk depot minuman diseberang jalan. Kami berlarian ditengah teriakan klakson mobil yang terganggu kenekatan kami. Sumpah serapah dan genggaman tangan dibalasnya dengan tawa kecil sangat menggoda, disertai gerakan jemari melambai manja. Lakunya benar- benar mendiamkan sebagian pengemudi kendaraan yang nyaris menderita kerugian. Dan aku kembali diseretnya ditengah kesemerawutan itu.

Entah dimana perkebunan manisan negeri ini. Depot – depot minuman yang tak menyediakan kursi untuk duduk dapat dengan mudah dijumpai setiap sudut kota. Juga keran – keran air es gratis, akan dengan mudah juga kita dapatkan. Air mineral kemasan mungkin akan menjadi kurang laku. Meletakkan mesin – mesin air es gratis ditempat dikeramaian sungguh sebuah Ide brilliant. Perbuatan baik yang tak terasa, melepaskan manusia dari dahaga.

Sari tebu dingin itu pun hilang manisnya setelah melewati tenggorokanku. Berubah menjadi dingin yang mengalir hingga rongga dada. Masuk kedalam lambung. Dinding lambung bekerja untuk mengisap esensi minuman tadi, memuatnya dalam darah lalu dialirkan keseluruh tubuh. Bila tubuh kita tidak lagi mempunyai kemampuan untuk mengolah glukosa menjadi tenaga, esensi tebu tadi akan menumpuk didalam darah. Sebagian dibuang melalui urine, sebagian tidak. Hal ini menyebabkan darah berkurang kemampuannya dalam menyembuhkan luka. Yang paling fatal, pria akan kehilangan kemampuan untuk ereksi. Jangan sampai ini terjadi.

***

Seperti Biasa. Fikron, Andi, Roni dan aku mengendap – endap diantara bebangunan distrik 10. Maaf, aku mulai kurang nyaman dengan pengulangan -pengulangan kata – kata untuk menunjukkan bentuk jamak. Seperti bangunan – bangunan dan ikan – ikan. Dalam bahasa arab kata jamak tidak ditunjukkan dengan menambah huruf “S” pada belakang suku kata. Tapi merubah bentuk kata itu, bentuk jamak yang hanya terdiri dari dua suatu yang jamak, berbeda dengan bentuk jamak tiga suatu atau lebih. Untuk lebih mudahnya begini; kata ikan adalah singular, kata ikan akan berubah menjadi ikanani bila ikan itu berjumlah dua ekor. Apabila ikan itu berjumlah tiga ekor atau lebih maka kata itu akan berubah menjadi aikan, atau seperti sapi, bahasa arab mempunyai sebutan- sebutan tersendiri untuk sapi berumur 6 bulan, 8 bulan atau 9 bu..

“sudah Mir. kau tak sedang mengajar bahasa arab.”

“tapi ini penting Ron. Kesalah pahaman orang terhadap agama kadang-kadang terjadi karena ketidak fahaman mereka terhadap bahasa arab dan betapa berbedanya struktur bahasa itu.” Sahutku.

“kan ada terjemahan?”

“terjemahan bagus Ron. Tapi kemampuan dia untuk merujuk suatu masalah pada literatur sumber terbatas pada pemahaman penterjemah saat menerjemahkan sesuatu itu Ron.”

“Ya sudah, kau pakai saja gaya bahasa kamu yang baru, untuk menyebut komputer dalam bentuk jamak tinggal kau jadikan kekomputer, kaki dalam bentuk jamak tinggal kau bilang kekaki atau aikak. Setuju?”

“stop. Itu orangnya.”

Rupanya dari tadi Fikron tak memperhatikan perdebatan kami. Matanya tertuju pada seorang mahasiswa malaysia berbaju koko, berpeci putih, kurus dan berkaca mata. Dia hampiri mahasiswa itu dan menyeretnya pada kami yang bersembunyi dalam bayangan bangunan. Lelaki kurus itu tampak gugup dan gemetaran.

“ampun, ampun. Saye tak bawa duit.”

“diam kamu pakcik. Dah nak mati masih fiki duit pulak.” Ujar Fikron kejam.

“kami tak nak duit pakcik.” Andi menimpali, bagaimanapun dia mencoba memasang tampang sangar, tubuh cekingnya tak mendukung.

“cakap apa syeikh nour ceramah tadi, kalau tak cerite, awak tak boleh pulang ler.” Fikron semakin kejam.

“u cakap apa ler nih? I tak faham.” Mahasiswa malaysia itu menjawab putus asa.

“sudah lah Fik tak usah sok pakai bahasa melayu, orang malaysia ini aja ngga ngerti.” Roni melerai.

Mahasiswa yang dalam ketakutan itu mengangguk.

“okey pakcik. Kami ingin pak cik menceritakan isi ceramah syeik Nour tadi.” Ujar Roni tenang.

“macam mana ni? I tak faham.” Orang malaysia tadi tampak makin ketakutan.

“tuuuuh.. dia ngga faham juga.” Fikron mulai tak sabar.

“macam mana saye nak faham. Saye pun tak dengar syeikh nour ceramah ape. Saya baru pulang makan.”

“yeeeee… kirain.. tampang doang lu.” Kami berucap serempak.

“saye ni budak brunei. Bukan budak m’sia. Tak pandai pulak I cakap melayu macam torang m’sia tu.”

***

8 Responses leave one →
  1. 2009 May 16

    salam kenal bro.. sorry gw bingung mau nulis apa yg tepat disini. Coba udek2 di navigasi-nya, cari sesuatu tapi gak nemu juga.. :-)

    Rgds/stephen langitan

  2. 2009 May 21

    Assalamu ‘alaikum mas, demi menjalin silaturahmi sesama Blogger marilah kita saling bertukar link, gimana mas?? Salam kenal yah dari Dedhy Kasamuddin :D

  3. 2009 June 13

    I really like your post. Does it copyright protected?

  4. 2009 June 29

    weh, mantep skali ini

    • 2009 June 30
      eoin permalink

      bweh.. wah ente akan dapat reward karena comment di kategori tak laku ini, handak manjulungi blackberry kad bedu pulang menukarakan. wakakaka..

  5. 2009 July 14

    keliatannya sering bolos kuliah niy
    tapi kreatif, ngucapin ultah pake madamin, hidupin saklar 20 kali
    *kreatif apa gak modal, apa kurang kerjaan yah* he he he

    ****
    ehmm ehhhmm, kurang vulgar niy cerita yang di jok hitam ha ha ha

    *****
    giliran tentang minuman yang sebagian jadi urine aja panjang jelsinnya *mupeng*
    btw, kehilangan kemampuan ereksi kenapa tuh????

    ******
    yang bagian terakhir sampe huruf terakhir
    bacanya, serasa lagi selingkuh sama manohara kekekekekekekkk

    • 2009 July 14
      eoin permalink

      1. kok tau zul? hehehehe.. itu lagi habis ide, gimana caranya bilang umur. soalnya ceritanya kan bakal panjang man. dari bujangan penuh birahi sampai om-om :P
      2. versi vulgarnya bisa ente baca di thread saya di *******.us wekwkwek.. :P
      3. bingung tau mau bikin tulisan sepanjang 200-300 halaman. makanya banyak hal di bikin bertele-tele dan mubazir kata-kata.
      4. itu memang agak kontroversial, mungkin akan dihapus, soalnya agak pasaran banget. takutnya pasar sudah jenuh dengan isu poligami. :P

      • 2009 July 17

        1. Sekilas mamahami tulisannya aja siy…huahahaha birahi??? wowww kekekekkk
        2. Nggak jadi ah, ntar dosanya tambah kekekekkkk
        3. Gitu yak???
        4. Bikin isu poliandri aja kalo gitu he he he

Leave a Reply

Note: You can use basic XHTML in your comments. Your email address will never be published.

Subscribe to this comment feed via RSS