Chapter 2. The Titan
Setelah berhasil membantu Cleopatra membangun istana termegah untuk julius caesar. Asterix dan Obelix mengarungi laut mediterania untuk kembali ke galia. Badai besar menghadang. Angin memaksa mereka berlindung di perairan dalam pulau crete. Menghindari serangan bajak laut dan armada laut romawi, mereka terus melayari aegea, berharap bisa menemui archiles.
“achilles! Achilles!”
Seorang wanita tergopoh menyahuti panggilan itu. rambut emasnya dibuai angin.
“dia pergi bersama odysius.” Wanita itu menjelaskan, “kudengar pangeran troya menculik helen. Mereka pergi membantu raja aegea merebut kembali ratunya. Kulihat kapal kalian ramping. Kalau kalian berangkat sekarang, mungkin masih sempat menyusul mereka.
Kesal, asterix memancangkan layar. Kembali mengarungi lautan.
“kemana kita obelix?”
“kekiri! Terus kekiri.!”
“kau yakin?”
“sangat yakin! Kulihat camar laut bergerombol. Pasti sudah dekat daratan. Sekarang putar haluan ke kanan asterik!”
Pria kecil berkumis panjang itu memutar kemudi. Menuju daratan yang dijanjikan obelix.
“daratan! Daratan!”
Kapal – kapal nelayan mulai banyak terlihat. Salah satunya mendekati mereka.
“perlu penginapan? Kulihat kalian tak berasal dari sini.” Lelaki diatas kapal itu berkata.
“terima kasih pak tua. Kami ingin terus berlayar ke galia.” Jawab asterix.
“galia? Kalian berada di marmara sekarang. Sebaiknya putar haluan menuju selatan. Kembali ke laut aegea lalu mediterania.”
“obelixxxxx!!!”
“kukira kau mencari daratan asterix.” Sahut obelix lugu.
Karena kehabisan air tawar mereka terpaksa merapat di istambul, dulu namanya konstantinopix. Seorang wanita tertarix pada obelix. Dia ingin lelaki tambun itu menjadikannya istri dengan syarat memberikan batu menhir yang selalu dibawa obelix kemana saja dia pergi.
Ternyata wanita itu adalah putri kaisar bizantium. dijadikannya batu menhir itu sebagai monumen pernikahan putrinya dengan orang galia. Sebagai ikatan persahabatan antara konstantinaopix dan galia. Ikatan itu terus berlangsung bahkan sampai penguasa konstantinopix berganti dan jatuh ketangan kesultanan utsmani. Karena itulah jerman dan turki bekerja sama dalam perang dunia I menghadapi sekutu.
Sampai sekarang batu menhir itu masih berdiri di jantung kota istambul. tak jauh dari bosporus. Dekat mesjid sultan Ahmet.
Bokis banget ya? Begitulah cara sebuah sejarah diselewengkan.
***
Didepan Obelisk itu aku berdiri. Seperti murid nakal menunggu hukuman guru. Ah, bukan itu. Seperti pecinta yang putus asa meratapi sang kekasih saat kembali pada suaminya. Bukan itu juga.
pada saat itu aku ingin badai merah gurun berkecepatan 100 km/jam, memindahan bukit-bukit pasir melintas laut aegea dan meniup obelisk ini agar menimpaku. Kemudian aku mau angin itu sirna. Biar pasir benua afrika itu menguburku. Setelah kupikir lagi, lebih baik jangan. Akan terlalu banyak kerugian material di pula crete dan samos bila itu terjadi.
Aku beranjak dari sana. Menuju bangku panjang yang menungguku didepan air mancur berhias bunga tak tahu aku namanya. Berwarna merah. Mencibirku dengan moncong terompetnya. Kulemparkan senyumku pada sekumpulan bunga itu.
Terdengar jeritan karet hitam berbentuk bundar, dipaksa berhenti berputar. Seorang gadis terlempar melalui pintu taksi yang terbuka, lalu terdengar suara pintu dibanting. Kemudian meraung suara mesin 2300 cc, 4 silinder segaris, dari sebuah mobil bermerek turki berbentuk Fiat. Seperti kia sephia bermerek Timor. Hatiku langsung berkata, Tommi, kuhargai usahamu, aku mendukungmu.
Segera khayalku tentang tommi suharto lenyap, saat melihat gadis itu limbung berusaha bangun. Aku menyongsongnya. Terdengar kumpulan bunga berwarna merah tadi menyanyikan lagu indiscent obsession, fixing a broken heart. Kuraih tangan gadis berambut hitam sebahu itu. Tiba- tiba obelisk tadi menyanyikan sebuah lagu magda ar-roumi, artinya kira-kira begini; dasar orang- orang timur! Maunya sok menjadi pahlawan. Anganku pun buyar.
Tentu saja kejadian diatas hanya rekaanku belaka. Memang ada seorang gadis keluar dari sebuah taksi yang berhenti tepat didepanku, bulevar sultan ahmet. Membayar ongkos taksi. Kemudian berdiri sejurus didepanku. Sepertinya menunggu seseorang. Kuangkat telpon genggamku. Kudial nomer telpon bayu agar menunda diri menjadi badai merah. Aku masih ingin menikmati keindahan baru ini. Sebuah menequin terbuat dari kayu pohon jambu yang kulitnya sudah dikupas. Kemudian di haluskan menggunakan ketam berteknologi nano agar menghasilkan permukaan kayu sangat halus, hingga saat kau menyentuh manequin itu, rasanya seperti menyentuh hamparan nata de koko yang belum dipotong- potong menjadi dadu. Seandainya potongan-potongan itu diberi gambar, pastilah orang- orang cina akan menggunakannya untuk main mahjong. Kamu tahu kan pohon jambu? Aku hanya mencoba menggambarkan kesempurnaan kulit gadis itu, sejak aku belum pernah bertemu dengan perempuan yang kulitnya berwarna kuning seperti langsat.
Aku sempat dibingungkan dengan informasi kuning langsat ini. Makan langsat aku suka, rambai apa lagi. Tapi buah rambai sekarang jarang kudapati. Buah rambai itu seperti langsat tapi lebih montok sedikit. Seperti layer kulit bawang, tipis tak berwarna, bening maksudku. Dalamnya berisi serat dan air. Urat- urat buah itu simpang siur berwarna kebiruan. Kami biasa mengadu keterampilan memutus urat didalam buah rambai tanpa memecahkan kulitnya.
Kembali pada langsat, pernah kubawa- bawa kulit langsat. Mencari wanita yang berwarna kulit sama namun tak juga kunjung kudapati. Hingga kulit langsat itu mulai membusuk. Barulah aku berjumpa.
Baru 10 menit berdiri, gadis itu tampak tak betah. Aku berpaling melempar pandangku pada kubah mesjid sultan ahmet. Dalam hati aku berdoa, “ya Allah aku akan shalat sunat dua rakaat bila kau kirim dia untuku.” Kemudian aku berpaling ke arah sekumpulan bunga warna merah tadi. Kusuruh mereka diam. Bunga- bunga itu tampak kesal. Kubujuk mereka dan kubisiki, “suara kalian merdu, tapi tolong, belum waktunya. Simpan lagu indiscent obession tadi buat nanti.”
Suasana menjadi sunyi. Taksi yang sesekali lewat tak terdengar suaranya. Begitu juga celoteh pemuda- pemudi pulang clubbing, menjadi gerak tanpa suara. Bahkan desau angin tak terdengar. Gadis diseberangku melangkah dalam slow motion menyeberangi jalan yang terbuat dari batu-batu heksagonal tertata kompak. Menderulah suara mesin diesel kapal bekas angkatan laut jerman yang dibeli presiden Habibi. Suara mesin yang terdengar berat dan dalam karena setengahnya sudah terendam air. Mesin itu tak mati, begitulah kecanggihan mesin diesel buatan jerman. Gadis itu terus melangkah dengan tenang. Setenang masinis kapal perang jerman yang melihat mesinnya tak bergeming meski terendam. Begitulah, Konon kapal yang dibeli indonesia itu sampai dengan selamat di pelabuhan tanjung priok.
“bagi api, boleh?.” Suaranya serak. Aku segera mengeluarkan pemantik api.
“eh, sekalian, itu juga.” Terusnya tersenyum.
Tergesa- gesa aku keluarkan kotak “itu” yang sisa sebatang. Dia tampak keberatan mengambil persediaan terakhirku. Kupaksa dia dengan menyelipkan batang terakhir itu pada bibirnya. Matanya menyiratkan pertanyaan, tak biasa dengan aromanya.
“Asli indonesia. Campuran sempurna antara tembakau dan cengkeh.” Jelasku menjawab pertanyaan yang tak diucapkannya. Mata itu mengeluarkan sinar yang kuterjemahan begini, “oh, asal tidak bercampur daun “itu” saja.” Kujawab dia dengan tatapan mata yang mengatakan begini, “oh tidak, mungkin ada sedikit. Mungkin beberapa batang dalam setiap slopnya, bila beruntung kamu akan mendapati bau daun “itu” begitu menyengat.” Dia malah bingung dan menjawab dengan senyuman lucu. Matanya menjadi seperti garis pantai alexandria yang ketumpahan minyak dari kapal tangker kandas. Aku simpulkan dia tidak menangkap arti yang kusisipkan pada pandanganku tadi. Maka kuputuskan untuk berbicara dengan bahasa yang bisa ditangkap oleh pendengaran, bukan bahasa mata.
“dari mana?”
“kurasa bukan urusan kamu.” Jawabnya sambil menghembuskan asap bermuatan 10 miligram nikotin dan 14 miligram tar.
“tidak pulang?”
“nanti pagi.” Jawabnya singkat, “pagar dikunci. Kalau pulang sekarang aku tak bisa masuk.” Terusnya tanpa menunggu aku bertanya lebih jauh.
Aku mengangguk- angguk seperti dosen yang masih memikirkan jawaban dari pertanyaan mahasiswa yang tidak bermaksud mencari kebenaran dari masalah yang dipertanyakannya. Aku jadi teringat pada seorang mahasiswa saat mengikuti diskusi, dihadiri oleh gusdur, sewaktu masih menjabat sebagai presiden. Saat itu dia mengajukan pertanyaan sangat panjang dalam bahasa indonesia yang kurang kumengerti, sarat dengan istilah-istilah ilmiah, kata-kata itu sebenarnya sudah memiliki padanan dalam bahasa indonesia. Aku rasa saat itu dia berharap orang- orang akan terpukau dengan kecerdasannya. Gusdur terlihat mangguk-mangguk dengan mata terpejam.
Setelah mahasiswa itu selesai dengan rangkaian istilah, gusdur menjawab, “pertama, saya tidak mengerti maksud kamu apa. Kedua itu kan menurut kamu. Menurut saya tidak begitu.”
Gedung auditarium al-azhar di Nasr City itu pun dipenuhi dengan gelegar tawa dan teriakan riuh rendah, rasanya seperti berada dipinggir air terjun victoria. Mohon maaf pada gusdur bila kejadiannya tidak benar-benar seperti gambaranku.
“kenapa senyum-senyum sendiri?” bibirnya masih sedikit terbuka usai bertanya. Rangkaian rapat buku- buku pada rak bhibiliotek of alexandria berbaris diantara pegunungan julian dan kapal perang turki dalam pertempuran zonchio tahun 1499. Buku- buku berselimut debu izmir yang putih.
Kujawab dengan menambah dosis senyumanku. Senyuman yang kini kutujukan padanya. Bukan pada lamunku tentang gusdur dan mahasiswa yang kini mungkin sudah jadi aktivis gerakan islam liberal. Dibalasnya lagi dengan senyum yang lain, Kali ini diiringi dengan kerutan diatas alisnya. Kujawab dengan senyum agak nakal. Dia tertawa kecil. Aku belum punya program enskripsi untuk bahasa senyum ini. Apalagi saat dia mencibirkan bibirnya dalam bentuk senyuman dengan hidung manjung tapi tak tajam yang diangkat sedikit ketatas.
Bukan hidung itu yang paling menonjol padanya. Mata bening gadis itu mempunyai kelembaban lebih. Kristal- kristal berukuran sangat kecil menimbulkan efek basah berkaca-kaca pada kedua mata itu. Mata yang jenaka. Seperti penutup tabot yang terbuat dari susunan berlian terbaik martapura. Bening namun membiaskan bayangan tak jelas perkamen berisi catatan war of roses, pembantaian muslim spanyol, penjarahan harta, manuskrip dan perusakan arsitektur dengan estetika sangat tinggi di andalusia, usaha pemusnahan muslim bosnia hingga blackdeath yang menghantui rakyat inggris tahun 1348. Semua kegalauan, kesakitan dan kesedihan panjang tersusun rapi dibalik mata gemerlap dan bersinar melebihi cahaya bintang timur. Bila kau tak punya cukup waktu untuk menelaah sinar mata itu, yang kau temukan hanyalah keindahan riang sepasang tupai berkejaran pada dahan-dahan pucuk pohon pinus.
Azan subuh berkumandang. Kuberi isyarat padanya bahwa aku akan menjawab dulu panggilan itu. Kubuat sebuah tatapan berharap dia masih disana bila aku sudah selesai nanti. Di jawabnya dengan sebuah senyum dan tatapan berkaca-kaca riang. Kuartikan itu sebagai “tenang saja, aku tak akan kemana – mana.”
Semoga Allah tersenyum melihat aku sujud panjang dalam shalat sunatku, tak jadi 2 raka’at, 6 malah. Kalau saja Iqomah belum disuarakan merdu tanda jamaat Fardhu Subuh segera dimulai, mungkin aku akan terus menambah raka’at nawafil. Usai salam ingin aku menghambur keluar mencari perempuan yang belum kutanya namanya tadi. Bahasa mata belum bisa menanyakan nama, umur atau alamat. Kusabarkan diriku sejenak larut memuja-Nya.
Setengah berlari aku kembali ketempat dimana kutinggalkan dia. Kekuatanku seakan hilang. Semburat sinar oranye di ufuk timur seakan menyanyikan lagu selamat tinggal, air supply, sekalian lagu richard mark, hazard. Dua lagu dalam satu waktu terdengar sangat rancu, jauh dari harmoni, sangat tidak match, mungkin yang ingin dihadirkan adalah suasananya, bukan lirik lagi itu sendiri, menjadikanku luluh lantak dalam ketidak beraturan. Hatiku langsung menyeru namaNya. Menanyakan kesalahanku, aku langsung menyangka bahwa Dia marah karena saat memujaNya tadi, bayangan gadis cantik itu selalu datang.
Menyadari persendian hilang kekuatan, aku berusaha menggapai bangku tempatku duduk tadi. Bersandar menghela nafas panjang, telingaku menjadi semakin sensitif pada nyanyian matahari pagi. Dadaku gemuruh minta ampun.
“Hei, sukarno! Sukarno! Disini!”
Mataku berputar- putar mencari orang Indonesia selainku. Tak kunjung kudapat. Ada seorang lelaki berpeci hitam dengan wajah serupaku. Badannya tinggi seperti orang pakistan kebanyakan. Tentu dia orang afrika selatan. Lagipula kulitnya terlihat lebih pekat. Seruan itu terdengar lagi. Kucari sumber suara itu.
“Eh, benar kamu lihat Sukarno? Sebagian orang meyakini dia belum mati, seperti Elvis.” Kataku terengah. Jantungku berdetak kencang. Nafasku satu-satu. Kalau pelatih softball ku dulu tahu kecepatan sprintku tadi, tentulah tak dipecatnya aku ini.
“Sudah! Duduklah! Kamu lama.” matanya berkedip-kedip cepat hingga kedipan itu tak nampak. Begitulah caranya mengucapkan kata-kata tadi, sembari menarik tanganku, membuatku duduk pada kursi disampingnya.
“minum apa?
“ekstrak kopi pakai susu.” Sahutku.
“kopi latte?”
“bukan, ekstrak kopi pake susu.”
Embun tipis terbentuk bersama hembusan nafasku. Kepul asap diatas cangkir kopi membentuk liukan tubuh penari perut heliopolis. Kukeluarkan sebungkus “itu” masih bersegel, kubuka dan kutawarkan pada gadis disampingku, dia ambil sebatang, sisanya dia masukkan dalam kantong jaket. Kukeluarkan sebungkus lagi.
“katanya sudah ada kesepakatan seluruh dunia ini dilarang?” sambil memainkan sebuah kotak setebal 1,2. cm.
Aku mengangguk, menghembuskan asap yang sudah tersaring paru-paruku, meninggalkan endapan nikotin disana.
“kenapa kamu masih?” telunjuknya bergoyang menunjuk silinder panjang diantara bibirku.
“kamu juga, kenapa masih?” aku membalas.
“katanya di Indonesia tidak? Menurut suatu literatur, aku lupa namanya.”
“sebagian bilang tidak, Al-Bajuri kalau tak salah.”
“disitu dikatakan apa?”
“dibenci.”
“harusnya sudah cukup untukmu berhenti dengan menjadi dibenci.” Ujarnya tersenyum
“kau?”
“sebelumnya aku tak pernah, setelah ini aku berhenti.”
“kau menyimpan sebungkus di sakumu.”
“setelah itu habis, aku berhenti.” Dia tertawa.
“mmm… kamu pulang jam berapa?”
“mungkin tak pulang. Mau langsung kuliah.”
“tidak ingin mandi dulu?”
“oh iya.”
Setelah membayar minuman kami, gadis itu memberhentikan sebuah taksi yang melintas.
“cepat! Sebentar lagi jam sibuk. Kamu tak akan bisa kemana mana.”
segera kuhabiskan kopi yang masih tersisa setengah. Kukepalkan tanganku pada sinar matahari pagi yang tadi melantunkan Hazard dengan nada melecehkan. Kukirimkan ciuman termanis buat mesjid biru sebelum melompat kedalam taksi.
“Eh, nama kamu siapa tadi?” kataku ragu saat mengulurkan tangan.
“aku belum bilang nama. Jadi kamu harus diajak kerumah aku dulu, baru mau kenalan?” wajahnya terlihat agak bengis.
Aku diam, kuperhatikan dia, tentu ada yang salah, tidak mungkin kejadian ini ada kecuali sesuatu yang besar telah terjadi padanya, mungkin suatu kesakitan besar. Kuperhatikan wajahnya, tak tampak ada sesuatu, matanya melekat pada dinding merah bata Haigja Sophia, kualihkan pandanganku pada lalu lintas belum ramai diatas galata.
Diujung jembatan itu dipandanginya aku, matanya selalu begitu riang, tak berubah sejak malam tadi. Betapa cerah langit Istambul.
“Zebeyde Stanishev!” katanya sambil membuka pintu apartemen.
Zaubaidah. Begitulah bila kita mengejanya. Bahasa turki mengharuskan kita mengucapkan suatu kata dengan bibir masih agak terkatup. Sehingga huruf a dilapalkan sedikit cenderung pada huruf e pada kata ember.
“Amir hasan tabhari.” Sahutku memperkenalkan diri.
“terima kasih sudah mengantar aku.” Dia berikan aku sebuah senyuman lucu, kemudian menutup pintu.
Sekitarku menjadi sungai yang bertemu suatu percabangan, aliran sungai itu berhenti, tidak tahu ingin mengalir kearah yang mana. Kemudian aku tertawa, duduk membelakangi pintu tertutup itu, menggaruk kepala, tertawa lagi.
Banyak hal dianggap hanya sebagai suatu kegilaan kecil yang diputuskan tanpa melalui banyak pertimbangan. Sejak masa yang akan datang adalah gulita, maka kegilaan kecil itu mungkin adalah awal dari sesuatu yang panjang.
Dunia berjalan dalam suatu keteraturan, seperti stik drum yang menyentuh simbal setiap 1 detik sekali. Keacakan adalah suatu keteraturan yang polanya belum diketahui karena banyaknya variasi pola dalam jangka waktu tak teramati. Keteraturan adalah tanda ke”Ada”an kekuatan yang menciptakan suatu pola. Keacakan adalah tanda bahwa suatu pola tidak terjadi secara sendirinya. Diluar kedua hal diatas, ada yang disebut sebagai sebuah ketentuan.
Ketentuan atau takdir adalah suatu misteri, ia merupakan ujung dimana sebuah pilihan berakhir. Manusia mempunyai banyak pilihan dalam mengambil suatu keputusan atas suatu masalah, masalah adalah keadaan yang memiliki banyak opsi dalam menentukan akhir dari tiap masalah itu. setiap sebuah pilihan ditentukan, maka keputusan itu akan berakhir pada suatu ketentuan atau takdir.
Setiap keputusan yang diambil oleh manusia akan dinilai oleh Pencipta manusia. Dia akan membuat suatu keputusan atas keputusan manusia, hal ini disebut dengan Qhada, Dia akan memutuskan apakah akan mengampuni keputusan manusia itu atau tidak, akan memberi reward atau punishment. Qadar adalah sekumpulan takdir yang merupakan ujung dari suatu keputusan manusia.
***



Wow,
Bagus bangget. Yg begini sih ga bisa aku nulisnya.
@ dongeng geologi : apalagi widiya pa dongeng, ga bakalan bisa deh nulis sebagus om erwin…
tetap semangat ya om erwin nulis na….
Biasa banget.. Harus banyak belajar nulis lagi..
zubaidah oh zubaidah…
abang disini kepian kekekekeekkek
aku seperti membaca penggalan novel yang terpajang di rak toko buku besar.
sangat cantik mengolah tiap episode dengan taburan metafora yang bisa mengurangi kejenuhan usaha pemahaman substansinya.
apa diriku sedang bw di blognya seorang novelis besar ya?
Ente sudah seperti guskar aja noe, hehehe main cenayang-cenayangan, tapi makasih banget lho, aku ambil itu sebagai doa
masalah metafora yang aku takutkan, seluruh chapter berisi [terlalu banyak] metafora yang buat sebagian dianggap sebagai mubazir kata-kata. hal ini sebenarnya disebabkan ketidak mampuanku menyampaikan sesuatu secara verbal dan lebih terbiasa menggunakan analogi verbal itu sendiri.
novelis besar? amin.. sumpah pengen banget.. btw aku malah ngerasa ente berhasil menangkap metode penulisan yang aku sendiri agak bingung menyimpulkan dalam kata-kata. thx man.
haha…
aku juga bingung dengan ciri khas itu. seorang kawan yang tidak pernah komen tapi selalu setia membaca postinganku selalu menekankan ciri khas itu. dan menyampaikan lewat sms tiap selesai membaca postinganku.
“seperti yang postingan judulnya ini atau ini, lho. itu ciri khas kamu. bagus sekali”
dan diriku cuma bisa merenung, mencoba menggali parameter2 ciri khas itu, hingga akhirnya membebani setiap ketikan kibodku.
hingga akhirnya kawanku bilang, ” wis… buyar kabeh…”
jiahaha…
untuk dua postingan novel flash ini, aku tidak menangkap metafora yang berlebihan. proporsinya sudah cukup untuk mengemas keseriusan kalimatnya.
[sok teu]
maybe di dunia nyata dirimu selalu santai tapi sekaligus selalu serius juga, hingga orang-orang sering salah menanggapi ekspresimu
laskar pelangi & sang pemimpi, aku membacanya seperti lewat tol karena begitu ringan dengan katalisnya adalah taburan metafora komikal yang menyenangkan.
untuk 2 postingan novel flash ini, aku masih harus menambahkan ruang memory dan kedalaman pikir. dan ini sangat berat saat bw, harus ada ruang waktu tersendiri
nb: mungkin yang menggagap ‘metafora adalah mubazir kata-kata’ adalah orang lipi atau bps atau lembaga survey pilpres dengan ilmu pastinya.