Live is What You Make It
Kata-kata diatas tertulis diatas papan tulis hitam kecil, tergantung di dinding marcus forester building, sebuah gedung rekreasi di philadelpia, ditengah pemukiman kumuh Afro-American. Jim Ellis untuk pertama kalinya di tahun 1974 merintis sekolah renang. sepuluh tahun sebelumnya, Jim Ellis dilecehkan dengan dilarang mengikuti lomba renang karena warna kulitnya.
generasi pertama sekolah renang itu kalah saat bertanding dengan baracuda mainline, klub renang prestisius di philadelpia, memang ada kecurangan sedikit dialamai mereka yang hendak mereka selesaikan dengan kekerasan. Tim lawan berkata pada Jim Ellis, “Baiklah, mungkin kami sedikit curang, tapi selebihnya kami memang menang, earn your own respect!” jerit pria itu lantang.
Cerita diatas adalah cuplikan film berjudul “Pride”, sebuah kisah nyata dibintangi Terrence Howard, vcd origninalnya dapat dibeli seharga Rp. 10.000, terlalu kalau kita beli bajakan.
Dalam the Fast and The Furious, Brian o’connel bertandang ke acara kumpul-kumpul geng mobil. mereka mengadakan taruhan atas balapan yang akan segera dilangsungkan. Brian mempertaruhkan pink slips, sejenis STNK atau BPKB. dia berkata, “bila aku kalah, kalian ambil mobilku. Bila menang, kuambil duit taruhannya dan sedikit respect.”
Respect dan earning respect adalah yang tidak bangsa kita punya. Setelah kalah bertanding, tim PRD Jim Ellis, tertawa terbahak dan bercanda tak henti-henti dalam bis sepulang pertandingan itu. Sedikitpun mereka tidak sedih dan terus bercanda satu sama lain. Jim berkata, “tahukah mengapa kalian tertawa? kalian merasa lebih baik dari mereka dan tidak merasa malu karena dikalahkan.”
Hampir mirip dengan keadaan kita yang dealing with keterpurukan kita dengan cara saling mentertawakan, saling mencela dan saling menyalahkan.
Kita mengambil momen keruntuhan ekonomi sebagai kesempatan untuk reformasi total arah perjalanan bangsa ini. sebuah ijtihad mahal yang belum selesai karena setelah itu kita kembali saling menjatuhkan. Produksi pesawat kita memang sebagian dihargai beras, proyek automobil kita memang diwarnai nepotisme, tapi kita lupa, itulah prestasi bangsa ini. Sesuatu yang pantas kita banggakan tapi malah kita lecehkan. Produsen pesawat terbang lain memandang itu sebagai ancaman, hingga perlu blowing up berita tentang kejatuhan agar produksi kita di recall. Industri mobil kita merupakan ancaman produsen jepang. Para raksasa industri tidak akan dengan mudah menghancurkan kebanggaan kita itu bila tidak melalui andil kita sendiri.
Mungkin pendapat sebagian sejarawan benar, mengapa penjajahan lestari di bumi tercinta ini, disebabkan oleh budaya kita untuk tetap berkuasa, dengan memanfaatkan kekuasaan lebih besar agar melindungi kekuasaan priayi bangsa sendiri. Raden Mas Tirto Adisuryo merintis kebangkitan nasional-nya dengan membuang jauh-jauh kepriayiyannya.
Sementara bangsa-bangsa lain bangkit memperbaiki perekonomiannya, kita masih saling cakut, saling hina, saling berantem dan saling menjatuhkan. Para politikus sibuk memperebutkan kekuasaan , yang bukan politikus ada yang menyoraki, memperkisruh, ada yang diam-diam saja, ada yang memaki-maki dalam hati, yang paling parah adalah yang tidak peduli, memperbaiki letak celana terus berjalan santai mencari cara bagaimana menambah pemasukan hari ini.
Malaysia, meskipun terkutuk, menyikapi peluncuran proton dengan sambutan hangat masyarakat untuk merangkul produksi dalam negeri, kelebihan produksi semen diatasi dengan penambahan ruas jalan, masalahpun teratasi. Volks wagen, yang berarti mobil rakyat mendapat dukungan penuh.
aku disini tidak sedang membahas masalah industri atau ekonomi apalagi politik. aku sedang membicaraan kebanggaan kita berbangsa. aku sedang ingin membuat kita kembali sadar, Devide et Ampera adalah pelajaran kita sejak SD, filosopi sapu lidi juga, bhineka tunggal ika juga.
Sebesar apapun kekuatan ingin menghancurkan kita, tidak akan berhasil kecuali kita mengkondisikan diri untuk itu. seperti Flu babi, flu burung dan sederet virus produksi amerika lainnya, tidak akan mengenai kita bila kita tidak pernah mengkonsumsi binatang-binatang terlarang ataupun bangkai (binatang yang tidak disembelih dan tidak menyebut nama-Nya sewaktu disembelih). Darah kita akan immune dari teror biologis serupa.
Kawanku tercinta, para politikus, koruptor, pengawai pengadilan, sebagian besar mereka memang pantas dicela dan dikutuk, namun mereka juga punya hak untuk didoakan, didoakan agar sadar dari kesesatan.
Tak lama lagi pilpres akan ketahuan hasilnya, marilah istikharah saat memilih, marilah bersabar saat mengetahui hasilnya. Doakan mereka yang tidak puas dengan hasil pemilu, doakan mereka yang memenangi pemilu, doakan para pengambil kebijakan yang sering mempersulit kehidupan kita, mari lebih melihat kedalam diri.
Aku yakin doa lebih baik dari celaan, teguran lebih baik daripada makian, rangkulan jauh lebih baik dari tamparan. Mari menerima dan menghormati perbedaan cara demi kemajuan bangsa ini. Kritiklah tapi do’a kan juga.
Bangsa ini terlalu besar untuk dikalahkan kepentingan perut, Jiwa kita terlalu besar untuk mengorbankan idealisme, saudara kita terlalu mulia untuk kita cela.
Suatu hari murid Junaed Al-Bagdadi bertanya pada gurunya, “guru, mengapa kulihat wajah engkau serupa babi?”
Al-Junaed menjawab, “Muridku, Rasul bersabda, seorang mukmin adalah cermin bagi mukmin yang lain.”
Mari berbuat, tak hanya bicara, mari mengusahakan penghapusan ujian nasional dan mempersiapkan diri bila unas gagal dihapuskan. satu dua tahun mungkin akan ada korban gagal naik kelas atau kelulusan, namun kegagalan itu kita harap bisa menyadarkan. menggiring diri-diri yang membutuhkan mendatangi institusi-intsitusi nirlaba kita yang menyediakan pendidikan gratis. kita bisa berbuat tanpa harus berharap banyak pada pemerintah, kita bisa menciptakan perubahan meski sambil menyeru, menghimbau dan mengajak.
Kita adalah molekul bertabrakan, dengannya tercitpa energi, kita adalah butiran padi yang bergesekan, dengan begitu kita menjadi beras. Mari bersatu, bersama membangun negeri ini, mulai dari diri kita sendiri. MERDEKA!
Enggan kulepaskan kecupan indah pada bibir ibu pertiwi, enggan kulonggarkan rengkuhannya, enggan kutinggalkan hangatnya.



Maybe God wants us to meet a few wrong people before meeting the right one so that when we finally meet the right person, we will know how to be grateful for that gift.
Cobalah tuk meletakkan kaki kita di spetau orang lain, jika kita merasakan sakitnya… mungkin itu juga mengakibatkan hal yang sama, sakit yang sama pd org lain itu juga… tulisan yg luar biasa kang.. keep the spirit on.. asal jangan sampe panas nya matahari mengangkangi cara kita berfikir kang… Bhinneka Tunggal Ika bukanlah dimaksudkan tuk kita menjadi monoton…
si akangnya psti lebih mengerti
salam hangat.
sip kang.. akan saya renungkan.. bhineka tunggal ika yang monoton gimana maksudnya.. terus terang kalo ini kurang mengerti..
yup inspiratif sekali maz,
numpang lewat brooo
nice blog
saia suka ini:
“mari menerima dan menghormati perbedaan cara demi kemajuan bangsa ini”
dan, ternyata secara substansial sama sajaSama saja dengan apa pakacil? Setelah pulang dari malang, setiap rangkai kata yg anda ucapkan seperti tertutup halimun.. Disana anda tirakat ya? Atau flat line experiment waktu main futsal membuat anda mencebis sesuatu d sebelah garis kehidupan.. Kalau memang ada hal2 yg ingin d ungkapkan tinggal di gimanakan gitu pa, tp tolong gimana ya, saya sedang mengalami kramotak nih.. Sedang mengalami tunneling.. *baru bangun* hah, aku lg balas komen ini ya? Tadinya pengen sms*
Saya masih bingung milih siapa. Btw, dimana urang bajual kasetnya?
D duta suara biasanya ada om, yg timezone atau yg d dm.. D bagian obral..
masing2 pribadi mesti memulai untuk menjadi yang lebih baik, lalu bergandengan tangan membangun negeri yg sungguh besar ini. sekuat kaki garuda mencengkeram bhinneka tunggal ika.
Hehe.. Bergandengan tangan bisanya pas jalan2 doang mas.. Kalo burung garuda.. Mmm
semoga kita bisa saling intropeksi dan lebih baik lagi, ya kan…
salam kenal…
Yafh…seharusnya kita bangkit…
Mulai lagi dengan momen pemilu presiden kali ini…????
membaca tag blog ini yg paling atas….jadi inget beritanya di Tukul Bukan 4 mata yaach…? sadis, melankolis,…materialistis..? he…he…he…
tukul nyontek punya saya itu, hehehe, tag itu original dari temen saya bernama budi, gitaris T-Band, sebuah band asal bandung. waktu itu saya ngarang lagu dan minta dibikini musiknya sama dia. dia agak bingung karena aliran dia british banget. sedangkan lagu saya katanya, melankolis romantis sadistis gitu pa ee..
mampir abis contreng nih.
Ya! harus dimulai dari diri sendiri. Salam kenal!
Semoga Garuda perkasa itu masih memancarkan cahaya keemasan…. dengan kaki yang tetap mencengkeram Bhineka Tunggal Ika.. salam kenal..
“Respect dan earning respect adalah yang tidak bangsa kita punya”
dan seakan enggan untuk mendapatkannya…
numpang cument ach … lum baca kieh :d
two tumbs untuk posting ringan tetapi kontennya sangat dalam
barusan tadi aku bersyukur terhadap terkikisnya ikatan primodial di kalangan pemilih pilpres kali ini. kecuali di sulsel -yg bisa jadi akibat pernyataan rasional dari andy yang diblow up lawannya sebagai pernyataan sara-, seluruh rakyat di daerah sudah tidak meletakkan ikatan kesukuan ini sebagai prioritas menentukan pilihan. bahkan di aceh yang diklaim sebagai lumbung suara jk-win ternyata lebih dari 90% dimenangkan sby-boediono (quick count)
artinya apa?
dulu aku mengamati bahwa ikatan kebangsaan ini masih harus melewati jalan yang panjang untuk mencapai titik kulminasi sebagai bangsa indonesia. contoh sederhananya jika timnas bulutangkis atau sepakbola sukses di suatu event, siapakah yang pantas merayakan dengan berpawai meriah? saat itu hanya ibukota saja yang riuh rendah, sementara daerah lain terkesan adem ayem.
namun kini, semua sekat primodial sudah terkikis pelan-pelan. kebanggaan sebagai satu bangsa sudah mulai bangkit. olahraga, malingsia, dan berbagai event kebangsaan gaungnya sudah merasuk dalam sanubari mayoritas rakyat indonesia.
kita tetap dan akan terus optimis terhadap perjalanan bangsa ini.
salam…
Iyah, buat yg satu itu saya juga bersyukur banget, entah kenapa bangun pagi ini saya optimis banget kita semua akan baik2 saja.. Saya yakin meski pelan kita sedang membangun kedewasaan persatuan dan asimilasi kebiasaan saat satu kerja bersama2
Mudah mudahan harapan mas Noe terwujud yaaa mas.. walaupun menurut saya sepertinya semakin merebaknya arus ketidak perdulian.. yang diakibatkan masyarakat sudah mulai capeeee deeeeh
Salam Sayang
hmm.. Marilah kita mulai dari diri kita masing masing.. terutama bagi yang berkumpul disini.. yang mulai merasakan kepekaan suara hati nraninya.. melangkahlah dengan menemukan JATI DIRI kita masing masing dan mulailah tebarkan CINTA dan KASIH SAYANG
Salam Sayang
ketauan mas boed sedang gundah perasaannya neh.. biasanya kesini cuman sebar salam salam sayang doang… hehehe
Waaaakaakakakak.. ketahuan.. maluuu.. *muka meraaah*.. kabuuuuuurrrrrrr
Salam Sayaaaaang.. *mbil lari*
_______
jangan kenceng kenceng.. awas kesandung
positivisme, sugesti positif, pokoknya yg positif2 deh.. diperlukan oleh bangsa ini..
dimulai dari individu.. selanjutnya terserah anda…ya..ya ya…
_salam anget_
Orang yang peduli pada bangsa kadang malah dianggap sebagai makhluk aneh serupa alien dari mars. Padahal wajah gue ganteng!
Salam kenal!!
Mantap tulisannya nah…setuju !
Jadi pengen nonton ‘Pride’ hehehe
di tonton atuh neng, aku belinya udah lama tapi baru aja ke tontonnya, eh ternyata asik, nunggu momen kali ya…
Live is What You Make It ? Soal kesadaran berbangsa, sebenernya membahas sluruh aspek, cos gak ada bangsa yang ga bernegara (parah lagi kalo dia dijajah oleh bangsa lain dan mendirikan negara selain atas bangsa asal yang mendiami wilayah itu) eks. Australia& Amerika . Ditambah kajian konstelasi politik atas negara yang menaungi bangsa itu. Sebagai bangsa Indonesia yang terkenal heterogenitas rakyatnya dari berbagai segi, ini sebuah keunggulan tersendiri sebenarnya. Kalo pengen bangga artinya harus menyikapi perbedaan yang ada dengan baik & benar (tanpa menyuruh orang murtad dari keyakinannya). Taukah anda ? Seberapa orang telah murtad dari keyakinannya akibat sekulerisme & ini yang membuat dia & bangsanya gak bangkit dalam kebangkitan yang bener. Selalu membebek.
jadi dirikan khilafah neh?? hehehe
terbangkitkan rasa nasionalisasi saya, tergugah kesadaran saya bahwa bangsa ini tidak akan besar tanpa partisipasi rakyatnya sendiri. Seandainya saja seluruh rakyat indonesia kompak untuk membuat bangsa ini tegak, mendukung produk dalam negeri, bersatu tuk kemajuan negeri meski banyak perbedaan. tidak hanya berhenti pada wacana dan janji tanpa ada realisasi yang sayangnya banyak dikumandangkan justru oleh para petinggi negeri. Saya yakin, Indonesia akan menjadi bangsa yang dihormati dan disegani.
tulisan yang inspiratif..
sip mas, bagaimanapun pemerintahannya, kita berenti berharap banyak, tapi gak bisa juga putus asa, cuek-cuek kita bakal menghantam kita sendiri. mending kita teruskan pembangunan dan mengajak orang bersama membangun. saling mendukung, bila gak sependapat setidaknya gak saling sikut. hehehe merdeka.. hidup indonesiaku!
..peace … !!
menjadi khalifah harus respect dan bisa memberikan hidup yang lebih bermakna
kok aku jadi teringat iklan “membuat hidup makin hidup”
____
Sammaaa..
*OOT*
Judulnya itu “Live” atau “Life” ya? Soalnya artinya kan beda…
Yep bang tolong langsung d jelasin bedanya, cd nya lagi d pinjem.. Jadi belum bisa cek, rasanya sih live ya..
Rakyat sudah memilih. Alhamdulillah…
Semoga yang kalah dapat menerima kekalahan dengan berbesar hati…
Wah, saya sedang berharap bisa keluar dari paradigma menang kalah, semoga bukan karena pilihan saya kalah lho, atau memang karena itu [kok aku apologetik banget ya?] iya deh mba zee.. Yg kalah sabar ya.. Jgn bikin rusuh..
Ada apa denga pilihan kita ini bang…
saya masih setengah hati dengan yang terpilih
Ga tau juga id.. Ambil baiknya aja, hehe, sekarang kita mending fokus mendatangkan masterpiece sambil trus memberi dukungan pendidikan, kita mulai dari yg sederhana dulu, with any means nescessary
Sampai detik ini aja saya masih bingung.
Bener gak kemarin?
Anda dari pihak yg kalah juga ya? Seperti saya? Hehe, gpp mas jadi alien, marilah jadi megatron.. :p
bermula dari yang kecil, dari diri sendiri, muali sekarang dan saat ini
Tumben komennya adem brow? Hehe, sudah sinting beneran? :p
pasti sampeyan nulisnya dalam kondisi adrenalin menggelora sampe lupa kalo flu burung bisa nular lewat kontak langsung, ndak perlu nunggu kita makan.
btw postingannya inspiratif sekali, memang benar lagu kebangsaan kita, indonesia perlu dibangun jiwanya terlebih dahulu agar mau maju. liat aja kalo di kelas, orang kita jarang mau duduk depan kan? sederhana tapi itu cerminan.
Maksudnya, kalo pola konsumsi kita benar, maka kontak langsung tidaklah berbahaya
mengenai ngga mau di depan, tidak hanya di kelas, di masjid juga, jadi menyusahkan orang2 yang baru datang
air mataku menetes membacanya bukan karen aterharu, tapi saya tidak suka tulisan yang panjang.
sama seperti wahyu[http://www.wahyuriyadi.blogspot.com/]
hmmm….andai saja indonesia bisa memberlakukan hal yang sama dengan Korut, mungkinkah negeri kita bisa lepas dari penjajahan ekonomi …..dari bangsa lain
masing2 dr kita memang harus berani
untuk memulai dr diri sendiri, orang terdekat, sanak dan kerabat
juga sahabat, agar bisa dan mau membangun negeri ini
dengan bergandengan tangan, insyaAllah.
salam.
hai, maz erwin saya bopleh gabung kayuh baimnbai lah……..?