Reportase resminya mana nih? aku bertanya dalam hati, apakah acara malam sabtu itu kurang menarik? Setelah beberapa hari menunggu, aku memutuskan untuk menulis sendiri gathering party Kayuh Baimbai yang diadakan oleh Telkomsel ini.

[disclaimer] postingan ini menjemukan, garink, agak panjang, narsis, tidak menarik, curhat bete [disclaimer ini serius, bukan untuk menarik perhatian]
Lengkaplah kebete-an hari sabtu ini, siang-siang ke Deeno.net malah bertemu Candra Soulharmony. Yang bikin bete ternyata dia not bad as what i’ve thought before [:p]
Lagi nulis-nulis komen, listrik padam. Syed dah! akupun [terpaksa] terlibat perbincangan dengan Soulharmony, lumayan seru, u know it’s always fun when we talk about gals, hehehe. tentu saja diam-diam aku mengukur kekuatan lawan, mencari celah-celah lain yang bisa kucela dalam postingan.
Malam tadi aku menghadiri pertemuan sebuah organisasi tanpa bentuk (OTB) – bila menggunakan kamus orde baru, semacam Order of Phoenix – bila dipandang dari balik kacamata Harry Potter, serupa Darul Arqam pada masa awal pertumbuhan Islam, bukan Darul Arqom malaysia itu. Pertemuan itu bertujuan untuk meresapi kembali rasa Undang-Undang Dasar tahun 1945 mengenai kebebasan berpendapat, berbicara dan berkumpul – yang dalam kenyataan selanjutnya, penjelasan dan aturan tambahan yang mengiringi UUD45 itu bisa membawa para pelaku bicara menjadi Prisoner of Azkaban, atau bahkan disiksa – bila mengingat sejarah awal masa kenabian.
Menimbang hal-hal diatas, pokok pembicaraan dibatasi pada kisaran permasalahan ringan, seperti bagaimana mengatasi sindikat pembalakan liar, dalam hal ini oknum pemerintah dan korporasi besar, dibahas dalam kategori world peace. Bagaimana menyikapi ketegasan pemerintah, – yang sering dikalahkan kepentingan pengusaha, sehubungan dengan ditutupnya izin penumpukan batubara pada tanggal 23 juli mendatang, dibahas dalam kategori ekonomi dan bisnis.
Sebuah batu persegi panjang sangat besar masih tergantung hingga sekarang di Palestina. bisa disaksikan dalam dome of rock, meski keempat sisinya sudah dibangun dinding untuk menyelimuti keajaiban Mi’raj.
Jibril tinggal, membiarkan Muhammad menembus gerbang Sidrat Al-Muntaha, sebuah ketinggian penghabisan, dia berkata pada sang Nabi, “teruskanlah wahai Muhammad, maaf tak bisa turut, karena sayapku akan terbakar.”
Begitulah Dia memuliakan manusia, ciptaan dengan komposisi sempurna, paduan ketaatan dan keingkaran, tanah yang hina dan cahaya yang suci, kemuliaan manusia terletak pada esensi kemampuan mempercayai Dia, melalui tanda-tanda tentang ke-ADAan tak teraba namun terasa.


