sebenarnya beresiko juga menulis postingan ini, soalnya aku sedang berada tak jauh dari lokasi penampakan konon sering terjadi. aku liat kiri kanan dulu dan tanah kosong dibelakangku. kulihat mas gondrong sang operator warnet masih stand by di mejanya, maka kuteruskanlah menulis.
aku sedang berada di jalan garuda, jalanan yang terkenal angker kata abah dan mamaku. sudahlah tak jadi kuteruskan menulis tentang jalan garuda, aku sudah merinding saja dari tadi, baca-baca a’uzubillah.
Okey ghost aku gak jadi nulis tentang kalian, aku tahu, intinya kalian sudah tidak betah lagi tinggal diseputaran banjarbaru empat karena banyaknya pembangunan. all right! iya! gak jadi!
aku bercerita penampakan disekitar rumahku saja, komplek pinus indah. dulu waktu aku masih SD, ibuku berlari ke lantai dua rumahku, karena abangku memanggil dan berteriak, “kuyang! kuyang!”
read more…
Baru jalan-jalan ke bookstore, meneteskan air liur pengen beli buku-buku pramoedya Ananto Toer yang lama hilang, kini dicetak dalam sampul baru, betapa menggiurkannya. kubalik buku yang berbungkus plastik rapi itu, sekedar hendak mengetahui harganya. Anakku yang kelebihan energi meloncat-loncat disampingku, minta belikan alat-alat lukis, kutatap dia dengan mata heran, menyelidiki kemampuan tubuhnya merubah lemak menjadi protein, kemudian menjadi energi. Tidur siang tak pernah, malam tidurnya telat, aku hanya mengkhawatirkan perkembangan miliaran syaraf diotaknya, bila dia kurang tidur, untung tak ada TV di rumahku.
Hatiku gamang, selalu begitu bila berhadapan dengan pilihan, bukukah? yang harganya kian melambung, di tengah semangat mencerdaskan bangsa, atau menyalurkan kreatifitas anakku yang tak terbendung?
read more…
(Dedicated to Baburinix.)
“Koler om ai umpat meunjun, kada hingkat lagi nukar binsin, imbah tu landy ulun bakukus banar pulang, kalu pina mangalihakan banaraja kaina.”
“Nah ikam ni, mun banyak tu urangnya, bamalaman disitu kita.”
“magin nya ai ulun koler bemalam.”
“si Uya umpat.”
“Digawinya banarai ulun disana.”
“Si Jannah umpat, maka ikam katuju?”
“Katuju nangkakaya ituah, jakanya masih bujangkah.”
“Bai ikam ni, samalam pina galu handak babini, nangapa pulang jar?”
“Lagi kada baliur wan bibinian, mangalihi ja, mucai!”
“Guru Haji Ahmad Barani umpat jua.” read more…
Jarum petunjuk gauge putaran mesin sudah beberapa kali mencapai redline. Kopling menyentak roda gila memindahkan tenaga pada drivetrain, memutar bantalan hitam yang dulu memenuhi serat kayu kebun karet salam babaris.
“Awh… ow… Pelan-pelan cin, perutku kau buat sakit.”
“Sowy, lubang tadi luput dari perhatianku.” Jawabku tersenyum.
“Perasaan minggu yang lalu lubang itu tak pernah ada disana cin, bukankah sudah enam bulan jalanan ini terganggu perbaikan? Mengapa sudah rusak lagi?” sahutnya berusaha tertawa.
read more…